Cara membangun Teamwork dan Implementasinya pada Perusahaan

Written by Putri Kerstiawati

Teamwork, merupakan kata yang sering saya dengar di perusahaan tempat saya bekerja. Beruntungnya saya, setelah beberapa kali pindah tempat kerja, saya tidak pernah kehilangan momen teamwork ini. Seluruhnya memiliki suasana kerja yang menyenangkan dan lingkungan yang kekeluargaan. Ini mungkin impact positif yang timbul dari teamwork. Kita jadi mengerti satu sama lain, dan selalu mencoba untuk mengerti uniknya setiap jiwa di dalam perusahaan. Konsep dan implementasinya sudah pasti berbeda, namun feels-nya tetap sama. This is why teamwork is so important.

Selama kurang lebih 8 tahun saya bekerja, total saya sudah merasakan 3 kali pindah perusahaan dan disinilah saya belajar lebih mengenai arti kata “teamwork” itu sendiri. Tentunya tidak semua proses saya dapati dengan sempurna, sedikit perselisihan yang kemudian memecahkan team yang solid, itu sudah biasa dan merupakan momen yang penting untuk pembelajaran kedepannya. Berikut saya share beberapa faktor yang dapat mendukung tim menjadi solid :



1. Keterbukaan Informasi.

Sure, semua berawal dari komunikasi. Tanpa pandang jabatan atau perbedaan divisi, kejujuran akan informasi (terutama dari senior) merupakan hal yang sangat berharga. Umumnya karyawan new-bee banyak yang menjadi followers saja, belum berani speak up sehingga disinilah fungsinya keterbukaan dari para senior dan hindari memberikan informasi yang setengah-setengah. Kebenaran mengenai kondisi yang ada di perusahaan akan membuat tim dapat mengukur value yang diberikan terhadap perusahaan itu sendiri.

2. Kepercayaan.

Bekerja di era-digital membuat semua karyawan dituntut untuk menjadi full of initiative-kind of person. Ketika Anda merekrut karyawan baru, tentunya pada tahap awal akan ada penjelasan mengenai job description mereka. Pada tahap ini, cobalah untuk mengukur kemampuan karyawan tersebut. Jika fresh-graduate, luangkanlah waktu untuk membiasakannya bekerja dengan cara yang ada untuk kemudian ia kembangkan sendiri menjadi lebih baik. Sehingga secara bertahap akan tumbuh inisiatif pada dirinya.

Namun jika karyawan tersebut adalah middle-experience level, maka ajaklah berdiskusi mengenai ide yang dia miliki dan biarkan ia menyelesaikannya dengan inisiatifnya sendiri. Berikan ia kepercayaan yang aman, tentunya tetap dengan kebijakan masing-masing perusahaan. Hindari menginterupsi atau bahkan tidak membiarkan mereka bekerja dengan caranya sendiri. Ini akan membentuk jiwa bekerja seseorang menjadi less-initiative dan hanya akan menyelesaikan tugas berdasarkan instruksi saja.

3. Saling Menghormati.

Teamwork yang baik adalah yang anggotanya memiliki intangible chemistry, yang bisa saling menopang tanpa harus menunggu anggota-nya demotivasi terlebih dahulu. Teamwork yang berhasil adalah yang setiap anggotanya memahami peran masing-masing, berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan menghormati kapabilitas setiap anggota tim. Jangan pernah menanamkan pola pikir bahwa Anda lah yang terpintar dalam tim. Sekali Anda melakukan ini, perlahan tapi pasti, sense of teamwork akan hilang.

4. Pengakuan.

Setiap orang selalu ingin mendapatkan pengakuan dari apa yang sudah mereka kerjakan, dan terkadang pengakuan ini lebih dari segalanya. Kuncinya adalah untuk tidak hanya mengandalkan pengakuan individu atau hanya pada pengakuan tim. Keseimbangan selalu diperlukan. Akuilah prestasi dari anggota tim ketika mereka melakukannya dengan baik, dan lakukanlah secara terbuka. Sebaliknya, ketika ada anggota tim yang melakukan kesalahan, cobalah untuk tegur secara tertutup.

5. Dukungan.

Dukungan dalam tim bisa diberikan dalam beberapa cara, tidak hanya kata-kata motivasi tetapi hadiah dan bantuan juga bisa menjadi cara yang efektif dilakukan untuk memberi dukungan.

6. Peka.

Manusia di dunia ini tidak ada yang bisa hidup sendiri. Peka terhadap lingkungan sekitar akan memberikan rasa nyaman dari setiap anggota tim. Paradigma yang harus dimiliki oleh setiap anggota tim adalah ketika terjadi suatu masalah, janganlah acuh terhadap kondisi anggota lain. Jika kita sedang memiliki waktu luang, cek ke anggota yang lain, apa yang diri kita bantu dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengoptimalkan hasil kerja kita sendiri sehingga tidak menimbulkan masalah untuk anggota yang lain.

Dari penjabaran hal-hal diatas, maka bertanyalah pada diri kita masing-masing, apakah kita sudah ada di tim yang solid? Jika belum, bagian manakah dari hal tersebut yang belum kita lakukan untuk tim kita?. Tim kita adalah keluarga kita. Ketika mereka sakit, diri kita pun akan merasakan hal yang sama. Karena setiap keluarga tidak akan membiarkan anggota keluarga yang lain sakit.